Friday, September 16, 2011 - 1 comments

Ngintip Memek Bude Har

Cerita ini tak sengaja aku melihat budeku sedang memainkan memeknya pagi itu. ya tak sengaja, karena mungkin bude mengira aku sudah berangkat kuliah. Rumah sudah sangat sepi, pukul 10.00 kalau tidak salah. Waktu itu aku kebelet kencing banget. keluar dari kamar, aku mendengar suara aneh, seperti desisan dan rintihan. pelan kudatangi ruang tv itu, dan kakiku terasa lemas. karena waktu itu budeku har nampak sedang mengakangkan pahanya tangannya asyik memainkan memeknya yang berjembut sangat tebal, tangannya yang satu meremas dan memainkan puting susunya. wajahnya yang ayu nampak sangat bergairah, ahhh belum pernah kulihat bude har seayu itu, matanya merem mulutnya mendesis, dan kakinya menyepak kesana-kemari seiring dengan permainan jarinya yang kelihatan mulai basah kuyup itu.

“ohhhhhhh, ssssssssh ahhhhhhhh” desisan itu berulang kali kudengar. pelan-pelan aku merunduk dan mendekat kearah meja di ruang tv itu. dengan jelas aku melihat dalamen memek bude har yang mulai mekar kemerahan, bibir luarnya nampak menjambal tebal. ahhhhh…inikah yang dinamakan lobang kenikmatan itu, pikirku dengan menelan ludah dan menjaga debur jantungku yang seperti genderang mau perang. Semakin mendekat semakin jelas terlihat sosok memek budeku, basah dan tangannya itu dengan ritmis memainkan itil yang mengkilap kaya neker kecil itu.

“ohhhhhhh….har…uhhhhhhhh har” desisnya sambil memainkan itil itu dengan irama yang konstan. aku terkejut, karena bude menyebut-nyebut namaku dalam permainan tangannya. ahhhh, kenapa namaku yang disebut bukan nama pakde. tapi persetan, aku juga mulai bergairah melihat bude semakin intens memainkan tangannya dilubang kenikmatan itu. jembut yang lebat itu sudah penuh dengan cairan yang membusa, dan wajah bude kulihat semakin memerahhh, sementara tangan yang memainkan puting susunya terlihat tidak lagi meremas tapi menarik dan memelintir bulatan puting yang kian keras dan besar itu.

“ohhhhh har….cepat, genjot memek bude yahhhhhhh” desisnya purauuuu. aku semakin kamitenggengen melihat gerakan-gerakan pinggul bude, yang kadang naik kadang meredut dan kadang mengejang dengan keras itu. secara naluriah tanganku masuk kedalam sarung yang kupakai, dan memainkan burungku yang juga sudah keras itu, aku spontan tertular melakukan masturbasi bersama bude. pelan-pelan kuturunkan sarungku, kemudian kumainkan burungku mengimbangi gocekan tangan bude dimemeknya. kalau bude mendesisi kupercepat kocokan burungku begitu terus sampai giuran-giuran nikmat mulai membuncah. “aduhhhhhhh har….enakkkkk ya terussss” seru bude sedikit mengagetkanku, kulihat wajah bude mulai memerah, memeknya sudah membuncah berbusa, tangan bude tidak lagi mengelus melainkan mulai masuk, kulihat jari telunjuk bude mulai mengait-ngait memeknya, menusuk dan mengongkel, mengilik dan menggoser menimbulkan bunyi dencit yang dibarengi dengan erangan berat dari bude. ahhh aku pun mulai mempercepat kocokanku, rasa enak yang sangat mulai menghampiri permukaan kepala jamurku, yang juga semakin mengembang dan berkilat.

Kembali bude berteriak “aduhhhhhh har, aduhhhhhh matik aku enakkkkkkk” yang dibarengi dengan hentakan-hentakan pinggul keatas, matanya tetap terpejam, sementara tangan yang satunya tidak lagi meremas buah dada sekal itu, tapi mulai melintir dan menjumput puting dada itu. tidak sampai semenit dari adegan itu, bude lalu menjerit sejadi-jadinya sambil berkelejotan, pinggulnya menggeloyor dan menghmemeknya membanjir cairan kenthal yang amat banyak, kaya air kencing. aku cuma mlongo sehingga lupa diri, bahwa aku duduk persis dibelakang meja yang hampir tidak berjarak dengan posisi bude duduk menggelosoh. yang kutakutkan terjadi, pelan-pelan mata bude terbuka dan kontan, bude blingsatan dan berusaha menutupi semua anggota badannya yang terpampang jelas…akupun juga gupuh menutupi burungku yang tetap berdiri tegak dengan posisi sarung yang juga tak kalah acak-acakan. Melihat diriku yang demikian bude lalu berkata “hariii lagi ngapain kamu, kamu ngintip bude ya” hardiknya kencang…

1 comments:

Post a Comment